Episode 6: Setumpuk Kartu di Bawah Meja
Chapter 2: Dinginnya Kursi Pendopo Istana Mahkota
Lokasi: Pendopo Istana Mahkota
Waktu: Pagi Hari, Akhir 1998
Tak membuang waktu, Arini melesat menuju Istana Mahkota keesokan paginya. Ia menemui H. Sulaiman yang kini mulai sakit-sakitan setelah tekanan jantung yang menghantamnya berulang kali pasca-krisis.
Sang Patriark tua duduk berselimut kain wol tebal di kursi rodanya. Ia ditempatkan di pendopo istana yang menghadap ke arah taman, tampak lelah dan kehilangan separuh taringnya.
Arini berdiri tegak di hadapannya. Tanpa basa-basi atau penghormatan, ia melempar kaleng biskuit karatan itu ke atas meja di depan Sulaiman.
"Di dalam situ ada bukti penipuan berdarah bernama Dana Mahkota Sejahtera," desis Arini, nadanya penuh racun. "Anak Anda, Hendrawan, telah merampok tabungan ribuan rakyat miskin yang bekerja untuk kalian, dan membiarkan mereka depresi hingga ada yang bunuh diri karena kehabisan uang di masa krisis. Serahkan Hendrawan pada polisi, atau saya sendiri yang akan menghancurkannya."
H. Sulaiman melirik sekilas ke arah tumpukan kertas itu dengan mata rabunnya. Ia lalu menatap Arini dengan ekspresi tak acuh yang membuat darah Arini membeku.
"Arini," ucap sang Raja Tua dengan suara serak yang bergetar namun tetap arogan, "kau mungkin menguasai saham bank kami, tapi jangan pernah menceramahiku soal moral."
Sulaiman menepuk selimutnya pelan. "Dalam sebuah badai besar, puluhan rumput liar pasti akan mati terinjak. Tugas dari sebuah pohon besar seperti Mahkota adalah memastikan batangnya tetap berdiri tegak, apa pun harganya. Kami tidak meratapi nasib rumput di bawah kami. Hendrawan melakukan apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan likuiditas keluarganya."
Arini mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik saku roknya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap nyalang, menembus wajah tua yang tak punya hati itu.
Arini menyadari satu hal yang absolut detik itu juga: tidak ada ruang sekecil apa pun untuk nurani di dalam kepala orang tua ini, atau klan Mahkota secara keseluruhan. Keadilan tidak bisa dinegosiasikan secara rasional dengan dinasti ini; keadilan harus dipaksakan ke tenggorokan mereka dengan menggunakan pedang hukum.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk melihat pohon besar Anda ditebang habis," ucap Arini pelan, lalu berbalik meninggalkan pendopo tanpa menoleh lagi.