Kembali ke Daftar Isi

Episode 6: Setumpuk Kartu di Bawah Meja

Chapter 1: Sisa Reruntuhan Rel Kereta – Jakarta, Akhir 1998

Lokasi: Kantor Garam Capital & Bekas Rumah Bedeng
Waktu: Akhir Tahun 1998

Beberapa bulan setelah badai krisis berlalu dan kerusuhan mereda, Arini—yang kini menginjak usia 21 tahun—tersentak bangun dari tidur singkatnya di sofa kulit kantor Garam Capital.

Keringat dingin membasahi dahinya. Ia baru saja kembali memimpikan wajah ibunya, Siti, yang memucat kaku di tengah kobaran api kerusuhan. Rasa bersalah yang tak kunjung padam itu bagaikan hantu yang terus membisikkan kegagalannya sebagai seorang pelintas waktu.

Didorong oleh rasa rindu dan sakit yang kembali menusuk dadanya, Arini sendirian mengemudikan mobilnya mendatangi sisa-sisa kamar bedeng ibunya di pinggir rel kereta yang kini telah diabaikan dan setengah hangus.

Sambil menahan sesak, ia berjongkok membersihkan sisa-sisa debu abu dari barang peninggalan ibunya. Di sudut ruangan yang dulunya adalah tempat tidur ibunya, Arini menemukan hal yang ganjil. Ia mengangkat sebuah tikar pandan yang sudah usang dan setengah terbakar. Di bawah lantai tanah yang digali dangkal itu, ia menemukan sebuah kaleng biskuit Khong Guan tua yang berkarat.

Dengan tangan gemetar, ia membuka tutup kaleng yang macet itu. Di dalamnya tidak ada perhiasan atau uang tunai, melainkan setumpuk slip setoran tabungan berlogo Bank BAM atas nama Siti. Di sebelahnya terlipat sebuah brosur lusuh berisi penawaran produk investasi dengan kedok "koperasi simpan pinjam rakyat" bernama Dana Mahkota Sejahtera.

Arini mengerutkan kening. Mengapa ibunya—seorang pelayan miskin—menyetor uang ke koperasi investasi?

Arini segera kembali ke kantor dan membanting kaleng itu ke meja Bimo. "Audit nama koperasi ini sekarang juga. Cari tahu siapa beneficial owner-nya!" perintah Arini tegas.

Hanya dalam dua jam, Bimo membongkar sebuah fakta yang membuat darah Arini mendidih.

"Arini," ucap Bimo, menatap layar komputernya dengan ngeri, "Dana Mahkota Sejahtera bukan koperasi biasa. Ini adalah slush fund (dana taktis) ilegal berskema Ponzi yang sengaja didirikan oleh Hendrawan Mahkota secara off-the-books."

Bimo memutar layar monitronya ke arah Arini. "Hendrawan mendirikan ini untuk menampung uang receh dari ribuan rakyat kecil dan pelayan rumah tangganya sendiri dengan iming-iming bunga tinggi. Lalu, uang itu dilarikan dan disedot habis untuk menutupi kerugian miliaran rupiah akibat investasi tololnya di proyek Jonggol saat krisis memuncak kemarin."

Arini terdiam mematung. Matanya menatap tajam ke brosur lusuh milik ibunya. Rakyat kecil, termasuk ibunya sendiri yang berhemat mati-matian dari menjahit serbet, diam-diam telah dirampok dan dijadikan tumbal likuiditas untuk menyelamatkan nyawa dinasti tersebut.

Mengingat mimpi buruk yang terus menderanya, duka Arini kini berubah bentuk menjadi sesuatu yang sangat gelap. Ia tak lagi sekadar bermain catur saham untuk menguasai harta Mahkota; ini adalah deklarasi perang terbuka, sebuah pembalasan dendam pribadi atas air mata dan darah ibunya.