Kembali ke Daftar Isi

Episode 5: Badai yang Tidak Terelakkan

Chapter 8: Tangis di Tengah Reruntuhan

Lokasi: Rumah Bedeng Siti
Waktu: 18:45 WIB, Langit Mulai Gelap

Langit Jakarta kian menggelap, namun pendar merah dari api kerusuhan di jalanan besar masih menyala-nyala.

Arini bersimpuh perlahan di atas lantai tanah yang kotor. Dengan tangan gemetar, ia merengkuh tubuh ibunya, mengangkat kepala Siti, dan memeluk jasad wanita paruh baya yang sudah mulai mendingin itu.

Tangis Arini pecah seketika. Sebuah ratapan histeris yang menyayat hati, meraung menembus suara rentetan tembakan aparat dan bunyi sirine ambulans yang mengalun tanpa henti di kejauhan.

Di tengah kesedihannya yang meremukkan seluruh persendian dadanya, Arini menyadari satu ironi takdir yang sangat kejam.

Sekalipun otaknya yang berasal dari masa depan telah berhasil membalikkan panggung finansial nasional, memegang kekayaan puluhan juta dolar di genggamannya, dan sukses membuat para pangeran Mahkota berlutut mencium kakinya hari ini... ia tetap tak berdaya melawan absolutnya sejarah.

Kekacauan makroekonomi yang sengaja ia percepat tekanannya demi menjatuhkan dinasti Mahkota, justru menciptakan efek domino (ripple effect) berupa kerusuhan sosial yang merambat tak terkendali. Dan pada ujung efek domino itu, kerusuhan tersebutlah yang menakut-nakuti dan merenggut nyawa perempuan yang paling ia cintai di dunia ini.

Rasa bersalah yang teramat masif merangsek masuk, mencekik kerongkongannya tanpa ampun. Keputusannya bermain sebagai "Tuhan" di bursa saham, ternyata menuntut bayaran darah (blood price) yang terlalu mahal. Luka batin ini terasa jauh lebih menyiksa daripada lubang tembakan peluru pembunuh yang menembus dadanya di kehidupan sebelumnya.

Setelah berjam-jam menangis hingga matanya bengkak dan suaranya habis, Arini perlahan mengangkat wajahnya dari dada sang ibu. Air mata yang membasahi pipinya mengering, berganti dengan kilat mata yang sangat kosong... dan sedingin es abadi.

Ia meletakkan tubuh ibunya perlahan ke atas dipan, menyelimutinya dengan kain yang ibunya jahit terakhir kali.

Wajah Arini kini memancarkan aura keputusasaan sekaligus dendam murni yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Dendam yang tak lagi mempedulikan batas-batas kemanusiaan.

"Mahkota...," bisik Arini parau, suaranya terdengar seperti raungan pelan dari kedalaman neraka. "Kalianlah penyebab kemiskinan yang merampas ibu dari ayah puluhan tahun lalu... dan kini keruntuhan kalian membunuhnya lagi."

Ia berdiri dari lantai, membersihkan lututnya.

"Reformasi ini baru saja dimulai. Dan aku bersumpah, aku akan memastikan seluruh klan Mahkota membusuk di sel tikus penjara Cipinang atas setiap tetes air mata ibu hari ini... meski aku sendiri harus ikut terbakar hingga menjadi abu di dalamnya."