Kembali ke Daftar Isi

Episode 5: Badai yang Tidak Terelakkan

Chapter 7: Garis Takdir yang Terkunci

Lokasi: Rumah Bedeng Siti
Waktu: 18:30 WIB (Menyambung Scene Sebelumnya)

Napas Arini terengah-engah saat ia akhirnya tiba di halaman sempit depan rumah bedeng tersebut. Namun, langkahnya mendadak membeku. Darahnya terasa ditarik turun dari ubun-ubun ke ujung kaki.

Pintu kayu reyot rumah itu terbuka lebar, engselnya patah seolah ditendang secara paksa. Lampu petromaks dari dalam ruang tengah jatuh hancur berserakan di atas dipan bambu.

Dan di sana, tergeletak di atas lantai tanah yang kotor... Siti.

Wanita paruh baya yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang tanpa pamrih itu tergeletak tak bernyawa. Di tangannya, Siti masih memegang sisa jahitan kain serbet yang biasa ia buat untuk mencari tambahan uang receh. Wajah Siti memucat, matanya tertutup rapat, seolah jantungnya berhenti berdetak saat ketakutan luar biasa melandanya.

Seorang ibu tetangga yang sedang tergesa-gesa mengemasi buntelan baju untuk mengungsi ke stasiun, berhenti sejenak melihat kedatangan Arini. Ia menatap gadis itu dengan raut wajah sangat iba, mengetahui betapa lekatnya anak itu pada ibunya.

"Kasihan ibumu, Nduk...," bisik tetangga itu dengan suara bergetar ketakutan. "Tadi sore... ada gerombolan penjarah beringas lewat di depan gang kita, membakar warung depan. Ibumu yang sedang sakit sangat ketakutan mendengar jeritan dan suara rentetan peluru dari jalan besar. Jantungnya tidak kuat menahan shock. Beliau... beliau langsung jatuh begitu saja."

Arini perlahan menjatuhkan sertifikat rumah dan tas obat-obatannya ke atas tanah kotor. Suara bising kerusuhan ibu kota seakan lenyap. Udara di sekitarnya terasa tersedot habis, menyisakan kekosongan yang membunuh.