Episode 5: Badai yang Tidak Terelakkan
Chapter 6: Reuni Tragis di Pinggiran Rel
Lokasi: Jalanan Jakarta – Pinggiran Rel Kereta
Waktu: 18:00 WIB, Petang Hari
Setelah mengamankan kontrak akuisisi terbesar dalam hidupnya, kemenangan itu tak berarti apa-apa bagi Arini saat ini. Prioritasnya berbelok tajam dari ruang boardroom ke urusan nyawa.
Ia langsung melompat masuk ke dalam kemudi Volvo merah tuanya, menginjak pedal gas dalam-dalam menembus jalanan ibu kota yang semakin liar. Mobilnya meliuk menghindari sisa-sisa ban yang dibakar massa, pecahan kaca toko, dan barikade aparat.
Tujuannya hanya satu: rumah bedeng berdinding seng di kawasan pinggiran rel kereta api tempat tinggal Siti, ibu angkatnya (istri dari mantan sopir Mahkota).
Di jok samping mobilnya, Arini telah menyiapkan sekantong penuh obat-obatan penting, paspor, uang tunai, serta dokumen surat tanah rumah aman di daerah puncak Bogor. Ia berniat mengevakuasi sang ibu dari episentrum kerusuhan ibu kota malam ini juga.
Asap gas air mata dari bentrokan aparat di jalan raya masih memerihkan mata Arini saat ia memarkirkan mobilnya agak jauh dari permukiman padat. Ia berlari kencang menembus gang-gang sempit permukiman kumuh yang kini sepi seperti kota mati—para penghuninya banyak yang lari mengungsi atau bersembunyi.
Di tangannya, ia memegang selembar sertifikat rumah dengan erat—simbol janji masa kecilnya bahwa ibunya tidak akan pernah dibiarkan mati kelaparan seperti di takdir sebelumnya. Ia sudah memutar balik arah krisis finansial, maka ia yakin kali ini ia bisa menyelamatkan nyawa ibunya.
Ia berlari semakin kencang, jantungnya berpacu seiring dengan deru napasnya.