Kembali ke Daftar Isi

Episode 5: Badai yang Tidak Terelakkan

Chapter 5: Kontrak Penyerahan Kuasa

Lokasi: Ruang Kerja Rahasia H. Sulaiman
Waktu: 17:00 WIB, Sore Hari

Terjepit dari segala penjuru oleh kreditor asing, diburu oleh ratusan nasabah banknya yang mengamuk, dan tak lagi memiliki akses lobi politik (bailout) dari pemerintah Orde Baru yang sedang kolaps, H. Sulaiman tak punya pilihan.

Ia memanggil Arini kembali ke ruang kerjanya yang kini pengap dan temaram, karena pendingin ruangan sentral dimatikan untuk menghemat genset. Sang Taipan akhirnya menyerah pada kenyataan pahit bahwa anak pelayan yang selama ini dibesarkan di paviliun belakang rumahnya, adalah satu-satunya entitas finansial di republik ini yang memegang cukup banyak uang tunai (dolar) untuk menyelamatkan nyawa bisnis Mahkota dari kebangkrutan total.

Pintu jati terbuka. Arini melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Namun kali ini, ia tidak membawa nampan teh, juga tidak mengenakan seragam pelayan pembantu. Ia mengenakan setelan jas eksekutif hitam pekat khas fixer tangguh, membawa sebuah koper perak berisi dokumen legal Garam Capital.

"Garam Capital akan menyuntikkan dana darurat dolar untuk menalangi seluruh bunga utang valas Mahkota hari ini, Tuan Besar," ujar Arini sangat tenang, menarik kursi mahoni dan duduk santai di seberang meja sang patriark yang gemetar.

Ia membuka koper peraknya dan menyodorkan sebuah dokumen bermeterai di atas meja.

"Tapi syarat perlindungan kami sangat sederhana: Pertama, serahkan seluruh sisa kepemilikan saham dan kendali manajemen operasional Bank BAM kepada kami. Kedua, dan ini yang terpenting... besok pagi, Anda harus menerbitkan surat keputusan yang memecat Bambang Mahkota dari jajaran direksi secara tidak hormat karena dianggap sebagai biang kerok kerugian perusahaan."

H. Sulaiman menelan ludah dengan susah payah. Urat-urat di lehernya menegang, harga dirinya sebagai taipan terkoyak berkeping-keping. Memecat anak sulungnya sendiri sama saja dengan menghancurkan garis suksesi keluarga. Namun, di luar pagar rumahnya, Mahkota sedang sekarat kehabisan darah.

Tangan renta Sulaiman gemetar hebat saat ia membuka laci, mengambil pena emas kesayangannya. Dengan mata yang memerah menahan kekalahan telak, ia menandatangani dokumen penyerahan kuasa tersebut.

Arini menarik dokumen itu, melipatnya dengan rapi. Pengalihan kekuasaan historis dari dinasti oligarki Mahkota telah resmi terjadi, dan itu tidak disahkan di ruang sidang dewan komisaris, melainkan dirancang dengan sabar dari balik dapur kotor paviliun belakang.