Kembali ke Daftar Isi

Episode 5: Badai yang Tidak Terelakkan

Chapter 4: Target Baru – PT Samudra Logistik

Lokasi: Ruang Rapat Garam Capital
Waktu: 16:00 WIB

Kembali ke kantornya, Arini tak berhenti bermanuver di saat semua taipan sedang tiarap ketakutan. Bukannya ikut-ikutan memborong pabrik tekstil atau otomotif yang harganya sedang hancur murah untuk meraup untung kilat, Arini meletakkan sebuah dokumen akuisisi tebal di atas meja rapat yang mengejutkan Bimo.

Dokumen itu mencantumkan target akuisisi penuh atas PT Samudra Logistik.

Perusahaan pelayaran rakyat independen yang bermarkas di pelabuhan tua ini bertugas menyalurkan pasokan beras dan pangan antarpulau Nusantara. Saat ini, mereka berada di ambang kebangkrutan karena biaya bahan bakar kapal melonjak tak terkendali seiring turunnya Rupiah, sementara pendapatan rupiah mereka tidak cukup untuk membayar tagihan mesin dolar.

"Beli seluruh saham PT Samudra Logistik sore ini juga menggunakan cadangan likuiditas dolar kita," instruksi Arini cepat sambil menunjuk dokumen itu. "Talangi segera semua tagihan bahan bakar armada mereka dan lunasi gaji ratusan pelautnya yang tertunggak dua bulan."

Bimo membelalakkan matanya, memprotes keras keputusan itu.

"Arini, kamu gila? Sektor logistik laut sedang mati total dan berdarah-darah! Bunga pinjaman antar bank saja tembus puluhan persen. Kita akan rugi sangat besar kalau harus menanggung biaya operasional kapal-kapal tua itu di masa krisis ini!"

Arini, yang sedang berdiri memasukkan dokumen ke dalam tas kerjanya, berhenti. Ia perlahan menatap Bimo. Sorot matanya begitu tajam dan dipenuhi luka lama yang tiba-tiba menyeruak, membungkam pria itu seketika.

"Ini bukan lagi soal mencari untung finansial, Bimo," suara Arini merendah, menahan gemuruh di dadanya. "Di kehidupan masa lalu... dari jiwaku yang lain... ayah kandungku adalah seorang kuli pelabuhan yang kehilangan pekerjaan akibat kebangkrutan logistik pada masa krisis seperti ini. Ia tak bisa menafkahi kami, hingga akhirnya keluargaku hancur lebur."

Rahang Arini mengeras, matanya berkaca-kaca meski suaranya sangat stabil. "Jika Samudra Logistik mati, pasokan beras ke Indonesia Timur akan terputus total. Bencana kelaparan massal akan terjadi bulan depan. Saya tidak akan membiarkan ribuan keluarga kuli dan pelaut di luar sana memungut nasib bajingan yang sama dengan keluargaku dulu. Eksekusi dokumen itu sekarang."

Bimo tertegun. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi kemanusiaan yang teramat dalam dari sosok sang algojo finansial, dan ia mengangguk patuh.