Kembali ke Daftar Isi

Episode 5: Badai yang Tidak Terelakkan

Chapter 3: Kehancuran Bank BAM dan Penyelamatan Bank Swadaya

Lokasi: Pusat Distrik Finansial Sudirman
Waktu: 15:00 WIB

Jalanan distrik finansial Sudirman diblokade oleh barikade polisi dan massa yang panik. Bank BAM (Bank Asia Mahkota) sedang dihantam gelombang bank rush (penarikan dana massal) yang brutal. Ribuan nasabah dari berbagai kelas ekonomi mengamuk, menggedor dan melempari pintu kaca kantor pusat dengan batu, menuntut uang tabungan hidup mereka dikembalikan.

Sistem komputer mereka lumpuh. Kas brankas utama kosong karena uangnya dipakai menutupi bunga utang Bambang.

Di dalam gedung, bukannya turun tangan menyelidiki nasabah atau membagikan sisa kas secara adil, Bambang Mahkota justru tertangkap basah di ruang server. Bersama kepala cabangnya, Bambang sedang mencoba memindahkan secara ilegal sisa aset likuid bank tersebut ke rekening pribadinya di Swiss. Tindakan pengecut ini tak sengaja diketahui oleh seorang pegawai teller yang membocorkannya, memicu kemarahan massa di luar yang akhirnya merangsek masuk merusak lobi utama.

Namun, hanya berselang tiga blok dari sana, di jalan yang sama, pemandangan yang sangat kontras terjadi di Bank Swadaya.

Bank berskala kecil—yang setahun lalu diam-diam disuntik dana Dolar masif dan dirombak teknologinya oleh Garam Capital secara paksa—berdiri tenang. Berkat sistem pencatatan digital real-time yang efisien dan brankas penuh dolar yang segera dikonversi oleh Bimo, bank ini mampu melayani setiap antrean penarikan tunai dari nasabahnya dengan tenang dan teratur.

Berita dari mulut ke mulut segera menyebar bahwa "Hanya Bank Swadaya yang masih bisa mengeluarkan uang."

Arini memarkirkan Volvo merah tuanya di seberang jalan, memandangi logo Bank Swadaya yang masih menyala terang. Ia sedang menata kembali papan catur ekonomi nasional, bertindak sebagai dewa "Sang Penyeimbang", memastikan sektor perbankan kelas menengah tidak ikut mati lemas akibat keserakahan yang ditimbulkan keluarga Mahkota. Panggungnya kini sudah mutlak miliknya.