Kembali ke Daftar Isi

Episode 5: Badai yang Tidak Terelakkan

Chapter 2: Kepanikan di Ruang Tengah Istana Mahkota

Lokasi: Ruang Tengah Istana Mahkota
Waktu: 14:00 WIB, Hari yang Sama

Di kediaman H. Sulaiman, arogansi keluarga Mahkota lenyap seketika tak berbekas. Pemandangan di ruang tengah ibarat sisa-sisa reruntuhan kapal karam pasca-badai. Tidak ada lagi cerutu mahal atau tawa pongah.

Bambang Mahkota, sang pewaris utama yang biasanya tampil parlente, kini terduduk lemas di lantai marmer dengan kemeja basah oleh keringat dingin. Matanya menatap kosong ke lantai. Utang valas jangka pendek sebesar 350 juta Dolar AS yang dengan bangganya ia tarik setahun lalu untuk membeli PT Bumi Nusantara, kini membengkak lima kali lipat. Beban bunga hariannya saja mustahil untuk dilunasi, menyedot habis seluruh aset Grup Mahkota.

Di sudut ruangan yang lain, Hendrawan Mahkota tak kalah hancur. Ia baru saja membanting gagang telepon. Dana taktis perusahaan hulu sawit yang ia tarik diam-diam dan ia benamkan dalam proyek properti "calon ibu kota baru" di Jonggol, kini berstatus aset macet total. Tanah-tanah itu kini tak lebih berharga dari kubangan lumpur bau, karena jangankan pindah ibu kota, negara ini saja sedang sekarat.

H. Sulaiman yang sudah sepuh duduk gemetar di kursi rodanya. Tangannya mencengkeram erat dada kirinya, napasnya berat menahan sesak.

Ia menatap kedua putranya dengan jijik sekaligus keputusasaan absolut. Grup Mahkota, kerajaan yang ia bangun dengan darah dan keringat rakyat, baru saja resmi dinyatakan default (gagal bayar) oleh sindikasi bank asing.

Di saat yang bersamaan, televisi menyiarkan pengunduran diri menteri-menteri ekonomi. Sang Raja akhirnya menyadari kenyataan pahit yang paling menakutkan bagi seorang oligarki: jaringan perlindungan politik kroni yang selama puluhan tahun menyuburkan bisnis kotornya, kini ikut runtuh dihantam gelombang reformasi. Tak ada satupun aparat yang mau mengangkat teleponnya. Mereka sendirian.