Episode 5: Badai yang Tidak Terelakkan
Chapter 1: Jakarta Barat – Mei 1998
Lokasi: Kantor Rahasia Garam Capital, Jakarta Barat
Waktu: 13:00 WIB, Mei 1998
Layar televisi tabung di sudut ruangan kantor menampilkan kepanikan ekstrem dari seorang presenter berita stasiun televisi swasta. Grafik nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS hancur lebur secara mengerikan, menembus angka psikologis Rp15.000 per Dolar.
Di luar jendela kaca yang menghadap ke arah cakrawala Jakarta Barat, kepulan asap hitam pekat menodai langit siang yang panas. Kerusuhan massal pecah, etalase toko-toko dijarah, ban dibakar di perempatan jalan, dan antrean panjang orang-orang panik mengular di setiap mesin ATM yang telah lama kehabisan uang tunai. Bau karet terbakar sayup-sayup tercium hingga ke lantai atas.
Di dalam kesenyapan ruang kantor Garam Capital, suasana berbanding terbalik 180 derajat dengan neraka di luar sana. Arini, yang kini genap berusia 21 tahun, duduk tenang di kursi kebesarannya. Ia menatap papan tulis transparan yang dipenuhi jaring laba-laba peta utang para konglomerat Indonesia. Semuanya berujung pada kebangkrutan massal.
Pintu ruangan terbuka kasar. Bimo masuk dengan napas memburu. Jas mahalnya tampak kusut, kerahnya terbuka, dan rambut klimisnya berantakan—sebuah pemandangan langka dari eksekutif muda itu.
"Rupiah tamat, Arini," ucap Bimo parau, melemparkan pager-nya ke meja. "Pasar antar-bank tutup total. Singapura sudah menahan jalur kliring kita. Puluhan raksasa properti dan bankir meneleponku minta ditalangi dolar. Apa langkah kita selanjutnya?"
Arini—yang berkat intuisinya telah memindahkan aset Garam Capital ke dalam instrumen Dolar sejak dua tahun lalu—secara de facto kini menjadi salah satu pemegang likuiditas tunai terbesar di Jakarta yang sedang berdarah.
Ia tidak panik. Perlahan, ia memutar kursinya, menatap ke luar jendela kaca, melihat kota yang sedang terbakar. Ia melihat karma sedang turun ke bumi.
"Tidak ada langkah penyelamatan hari ini, Bimo," jawab Arini, suaranya tenang dan membekukan udara di ruangan itu. "Sekarang, ambil kopimu, duduk manis di sana... dan mari kita tonton dengan saksama bagaimana Dinasti Mahkota runtuh berlutut, mengemis untuk bernapas."