Episode 4: Kutukan Sang Pemenang
Chapter 7: Badai Mulai Menerpa – Juli 1997
Lokasi: Gerbang Luar Istana Mahkota
Waktu: Malam, Juli 1997
Bulan Juli 1997. Titik balik sejarah Indonesia dimulai.
Di layar televisi tabung yang menyala di berbagai ruangan Istana Mahkota, program berita melaporkan kejadian yang menggetarkan bursa: runtuhnya mata uang Baht Thailand. Kejatuhan itu perlahan mulai menyulut gelombang kepanikan finansial atau contagion effect di seluruh pasar Asia Tenggara, termasuk Jakarta.
Arini berdiri sendirian di luar gerbang besi raksasa Istana Mahkota. Angin malam bertiup kencang, membawa serta awan badai. Ia mengenakan mantel panjang, menengadah menatap langit Jakarta yang mendung pekat.
Di belakangnya, dari dalam kemegahan rumah utama yang biasanya tenang, terdengar hiruk-pikuk suara dering telepon yang panik dan teriakan-teriakan tertahan. Para direksi Mahkota dan kolega menteri menelepon tanpa henti, meminta jaminan keselamatan aset mereka.
Namun tidak ada yang bisa menjamin apa pun. Kurs Dolar AS terhadap Rupiah mulai merangkak naik secara tak terkendali, melompat dari Rp2.400 menjadi Rp3.000 hanya dalam hitungan hari. Pergerakan angka digital itu ibarat mengencangkan tali gantung pada utang valas miliaran dolar milik Bambang Mahkota dan Bumi Nusantara.
Semakin rupiah anjlok, semakin utang mereka berlipat ganda, menggerogoti kas operasional seperti kanker ganas.
Arini mengulas senyum tipis di bawah rintik hujan pertama yang turun membasahi ibu kota malam itu.
"Pesta kalian sudah selesai," bisik Arini pada angin malam yang dingin. Matanya memantulkan kilatan petir. "Selamat datang di neraka Krisis Moneter."