Episode 4: Kutukan Sang Pemenang
Chapter 5: Fondasi Bank Paling Aman
Lokasi: Ruang Rapat Garam Capital & Bank Swadaya
Waktu: April 1997
Sementara paman-pamannya sibuk berebut proyek berisiko dan bunuh diri secara finansial, Arini terus bergerak dalam senyap sebagai sang "Penyeimbang".
Ia mengarahkan Bimo untuk menyuntikkan dana Dolar hasil keuntungan tanah Kelapa Gading ke dalam sebuah bank swasta kecil dan independen bernama Bank Swadaya. Bank ini sengaja dipilih karena rekam jejaknya yang sangat bersih dari kredit kroni, tidak terafiliasi dengan Cendana, dan dikelola oleh para bankir senior yang kelewat konservatif.
Namun, Arini tidak berhenti pada investasi pasif. Ia memaksa manajemen Bank Swadaya untuk merombak total sistem pembukuan mereka. Ia mengharuskan bank itu menerapkan pencatatan digital real-time berbasis server terpusat di seluruh kantor cabangnya. Di era 90-an di mana internet masih barang langka, langkah ini menelan biaya yang luar biasa mahal.
Bimo memprotes keras keputusan tersebut di ruang rapat mereka.
"Arini, kita membuang jutaan dolar hanya untuk komputer dan server mahal di saat ekonomi sedang tenang! Ini investasi infrastruktur yang tidak menghasilkan profit seketika," protes Bimo, memukul meja.
Arini, yang sedang berdiri menatap papan tulis berisi proyeksi keruntuhan perbankan Indonesia, berbalik dan menatap Bimo lekat-lekat.
"Saat kepanikan massal (bank run) tiba beberapa bulan lagi, Bimo... ratusan ribu nasabah akan menarik uang tunai secara bersamaan. Bank-bank kroni Mahkota akan kolaps karena pembukuannya manual dan uangnya nyangkut di aset mati," jelas Arini dingin. "Bank yang sistemnya tidak down, yang paling cepat melayani penarikan tunai, dan memiliki cadangan kas valas paling sehat... adalah satu-satunya bank yang akan berdiri di atas mayat kompetitornya."
Bimo terdiam. Argumen Arini terlalu logis dan mengerikan untuk dibantah.