Kembali ke Daftar Isi

Episode 4: Kutukan Sang Pemenang

Chapter 4: Jebakan Investasi Bodong Jonggol

Lokasi: Loker Kampus FHUI & Kantor Hendrawan
Waktu: Beberapa Hari Kemudian

Di tempat lain, Hendrawan Mahkota mulai menaruh curiga. Ia melihat pergerakan bursa yang aneh dari Garam Capital, firma investasi yang terus-menerus mengumpulkan likuiditas tunai dalam jumlah masif alih-alih membelanjakannya untuk saham.

Mencari tahu siapa di balik firma agresif itu, Hendrawan menyuap salah satu staf administrasi kampus Universitas Indonesia untuk melacak aktivitas dan rekanan bisnis Arini (yang kabarnya sering terlihat bersama Bimo).

Arini—yang otak fixer-nya telah memprediksi langkah spionase amatir ini sejak awal—sengaja meninggalkan sebuah buku catatan tebal bersampul kulit palsu di dalam loker kampusnya yang tidak terkunci rapat.

Catatan curian itu diserahkan ke meja Hendrawan. Di dalamnya, tertulis "Rencana Induk Rahasia Garam Capital" untuk mengalihkan seluruh miliaran dananya demi memborong tanah di proyek properti raksasa di Jonggol. Saat itu, beredar isu panas (yang terbukti hoax di kemudian hari) bahwa Presiden Soeharto akan menyulap Jonggol menjadi Ibu Kota baru Republik Indonesia.

Hendrawan yang membaca informasi curian itu di ruangannya, tertawa mengejek. Ia melempar buku itu ke meja.

"Bocah kampus amatir!" cibir Hendrawan puas. Ia menganggap Bimo dan Arini hanyalah investor kemarin sore yang panik mencari return cepat. Merasa lebih pintar dan ingin memotong jalur keuntungan Garam Capital, Hendrawan justru menarik sisa modal taktis operasional dari bisnis hulu sawitnya.

Ia memborong ribuan hektar tanah rawa di Jonggol dengan harga mahal, tanpa sadar bahwa ia baru saja menjebak dirinya sendiri ke dalam skema Ponzi investasi aset mati yang tak bisa dicairkan saat krisis nanti.