Episode 4: Kutukan Sang Pemenang
Chapter 3: Sumpah Setia di Paviliun Belakang
Lokasi: Pendopo Paviliun Belakang
Waktu: 20:00 WIB
Malam itu, gerimis turun membasahi halaman Istana Mahkota. Merasa penat dengan ketidakbecusan anak-anak kandungnya, H. Sulaiman mencari udara segar dan berjalan menyendiri ke arah pendopo paviliun belakang—tempat kumuh yang jarang sekali ia kunjungi sejak membangun kekaisarannya.
Dari kejauhan bayang-bayang pohon mangga, ia melihat Arini sedang duduk di dipan bambu. Gadis muda itu dengan sabar membantu ibunya, Siti, memilah batu kerikil dari beras pecah kulit untuk makan malam mereka. Kesederhanaan yang kontras dengan miliaran dolar yang diurusnya di kantor.
H. Sulaiman memanggil gadis itu mendekat ke batas pagar beton. Ia berniat menguji ketajaman otak dan loyalitas Arini sekali lagi.
"Kenapa siang tadi kamu membantu Bambang dengan mencetuskan ide pembagian sembako menggunakan asetnya?" selidik Sulaiman dengan mata menyipit penuh curiga. "Kamu tahu itu akan membuat pamor Bambang naik di mata direksi, dan menyudutkan Hendrawan."
Arini menunduk takzim, menyembunyikan senyum licik yang tak terlihat dalam kegelapan malam.
"Saya sama sekali tidak berniat membantu siapa pun, Tuan Besar," jawab Arini pelan, menengadah menatap patriark tua itu. "Saya hanya menjaga nama baik Anda. Dinasti Mahkota hanya bisa berdiri tegak selama perut rakyat di bawah tidak kelaparan. Meredam kerusuhan adalah prioritas."
H. Sulaiman mengangguk perlahan, terkesan dengan kedewasaan dan kesetiaan Arini yang tanpa pamrih.
Sang Raja tidak menyadari bahwa ia baru saja dikelabui mentah-mentah. Dengan memaksa Bambang menyumbangkan logistik Bumi Nusantara secara gratis ke wilayah Sumatra, Arini sengaja membuat arus kas perusahaan logistik itu berdarah-darah. Hasil akhirnya, Bambang dan Hendrawan akan saling menyalahkan dan berperang satu sama lain atas kerugian tersebut, menghancurkan soliditas Mahkota dari dalam.