Kembali ke Daftar Isi

Episode 4: Kutukan Sang Pemenang

Chapter 2: Krisis Pupuk dan Amukan Petani

Lokasi: Koridor Eksekutif Istana Mahkota
Waktu: 14:00 WIB, Minggu Berikutnya

Alih-alih dihantam dari pasar bursa, medan perang kartel agraria Grup Mahkota justru meledak oleh krisis nyata di lapangan. Terjadi kelangkaan dan lonjakan harga pupuk bersubsidi secara gila-gilaan di seluruh perkebunan sawit Mahkota di wilayah Sumatra.

Hendrawan Mahkota—anak kedua yang mengelola sektor hulu—gagal total mengantisipasi distorsi distribusi pupuk ini. Akibatnya, ribuan petani plasma (mitra binaan Mahkota) mengamuk. Mereka memboikot pasokan tandan buah segar dan nyaris membakar lumpuh pabrik-pabrik pengolahan Mahkota di Riau.

Bukannya menyelesaikan masalah dengan bijak atau berdialog, Hendrawan mengambil jalan pintas yang kotor. Ia menyewa preman-preman bersenjata tajam untuk mengintimidasi dan memukuli para perwakilan petani yang protes. Mendengar kabar brutal tersebut sampai ke telinga LSM dan wartawan, H. Sulaiman murka besar. Citra filantropis pembela rakyat yang ia bangun puluhan tahun terancam hancur berantakan.

Di koridor Istana Mahkota yang sepi, Arini (yang kini berusia 20 tahun) sedang berjalan membawa setumpuk berkas magang departemen legal. Ia berpapasan dengan H. Sulaiman yang sedang berjalan terpincang memegangi dadanya, napasnya tersengal menahan sesak karena marah.

Arini menunduk sopan, berpura-pura bersimpati, lalu mendekat dan berbisik dengan nada menenangkan seorang penasihat setia.

"Tuan Besar... mohon tenangkan diri Anda. Jangan biarkan Tuan Hendrawan mengirim lebih banyak preman ke Sumatra," ucap Arini lembut. "Kirimlah bantuan sembako dan pupuk gratis dari sisa pasokan logistik Bumi Nusantara yang baru saja dibeli oleh Tuan Bambang. Redam kemarahan mereka. Biarkan publik melihat Anda sebagai juru selamat yang welas asih, bukan sebagai penindas kapitalis."

H. Sulaiman mengatur napasnya, menatap Arini. Logika itu sangat masuk akal dan efisien. "Kau benar. Segera siapkan perintah untuk Bambang."