Episode 4: Kutukan Sang Pemenang
Chapter 1: Kantor Pusat Grup Mahkota – Jakarta, Awal 1997
Lokasi: Ruang Rapat Eksekutif Mahkota, Lantai 40
Waktu: 09:00 WIB, Awal Tahun 1997
Suasana di ruang rapat eksekutif Grup Mahkota pagi itu diwarnai euforia kemenangan. Bambang Mahkota, sang putra sulung, berdiri dengan dada membusung bangga di ujung meja oval berbahan kayu jati. Ia baru saja merayakan keberhasilannya mengakuisisi PT Bumi Nusantara Tbk—raksasa logistik yang sangat strategis—senilai Rp1,5 triliun.
Sayangnya, kemenangan itu diraih dengan sebuah bom waktu: ia mendanai 100% akuisisi tersebut menggunakan fasilitas utang valas jangka pendek dalam bentuk Dolar AS, sebuah ide beracun yang ditanamkan oleh Arini.
Bambang mengangkat gelas sampanyenya ke arah para dewan direksi. "Dengan Bumi Nusantara di tangan kita, tidak ada lagi pihak yang bisa mendikte harga logistik Mahkota! Kita memonopoli hulu ke hilir!"
BRAK!
Pintu ganda ruang rapat tiba-tiba menjeblak terbuka, menghantam dinding dengan keras. H. Sulaiman melangkah masuk. Langkah tuanya terasa berat, namun auranya membuat suhu ruangan anjlok. Ia langsung membanting sebuah bundel tebal laporan makroekonomi internasional ke atas meja kayu itu.
"Kamu pikir kamu baru saja menang, Bambang?!" desis H. Sulaiman. Suaranya bergetar hebat menahan amarah, matanya menatap nyalang ke arah putra sulungnya.
Bambang menurunkan gelas sampanyenya perlahan. "Ayah... kita berhasil mematikan langkah Garam Capital."
"Kamu mematikan lehermu sendiri!" bentak H. Sulaiman, memukul meja. "Kamu baru saja membeli perusahaan kapal logistik keropos menggunakan utang dolar jangka pendek! Kalau kurs dolar bergerak naik seratus perak saja, biaya bunga pinjaman harianmu akan membakar habis seluruh keuntungan minyak goreng kita dalam semalam!"
Bambang tertunduk, nyalinya menciut di hadapan sang patriark. Namun egonya masih meronta. Ia bersikeras membela diri. "Ayah, posisi Rupiah saat ini sangat aman. Pak Soeharto dan pemerintah Orde Baru menjamin kestabilan kurs. Tidak akan ada fluktuasi berarti."
H. Sulaiman menatap anaknya dengan sorot mata penuh kekecewaan. Ia tahu betul, tidak ada negara mana pun yang bisa menggaransi nilai mata uang selamanya, dan arogansi Bambang ini telah menaruh pelatuk pistol tepat di kepala dinasti Mahkota.