Kembali ke Daftar Isi

Episode 3: Aliansi di Balik Bayangan

Chapter 8: Penutupan Sempurna

Lokasi: Gerbang Istana Mahkota & Gedung Perkantoran Sudirman
Waktu: Malam Hari, Hujan Lebat

Episode ini ditutup dengan adegan paralel (cross-cut).

Di sebuah gedung perkantoran tinggi yang menghadap langsung ke arah pelabuhan niaga Tanjung Priok, Bimo sedang berdiri di depan kaca jendela besar. Ia berbicara melalui telepon satelit clamshell tebal di tangannya.

Sementara itu, di ujung sambungan yang lain, Arini sedang berjalan kaki keluar dari gerbang besi Istana Mahkota. Guyuran hujan lebat menghantam payung hitam yang ia pegang, mendinginkan malam Jakarta yang pekat.

"Bambang Mahkota resmi memenangkan lelang Bumi Nusantara, Arini," lapor Bimo dari seberang telepon, suaranya terdengar cemas sekaligus takjub. "Dan seperti yang kau perkirakan, dia menggunakan fasilitas utang dolar 100 persen. Perjanjiannya baru saja ditandatangani malam ini."

Arini menghentikan langkahnya tepat di luar gerbang tinggi Istana Mahkota. Ia berbalik perlahan, menatap jajaran mobil mewah, lampu-lampu kristal, dan kemegahan rumah para pangeran Mahkota.

Tatapannya sangat dingin. Setajam silet yang siap menggorok leher.

"Bagus," bisik Arini ke dalam gagang telepon, suaranya memotong suara gemuruh hujan. "Biarkan mereka berpesta merayakan kemenangannya malam ini, Bimo."

Petir menyambar, menerangi wajah Arini yang tanpa ampun.

"Mereka tidak pernah tahu... dalam beberapa bulan ke depan, saat badai krisis moneter menghantam dan harga dolar melonjak lima kali lipat, utang murah yang mereka banggakan malam ini... akan berubah menjadi tali gantung yang mencekik leher seluruh dinasti Mahkota."

Arini menutup teleponnya, membalikkan badan, dan berjalan menjauh ke dalam bayang-bayang malam, meninggalkan Istana Mahkota yang tinggal menunggu waktu untuk runtuh.