Episode 3: Aliansi di Balik Bayangan
Chapter 7: Jebakan Utang Valas Menjelang 1998
Lokasi: Ruang Rapat Direksi, Istana Mahkota
Waktu: Malam Hari, Akhir 1997
Ruang rapat direksi terasa panas. Bambang Mahkota tampak frustrasi berat karena harga lelang PT Bumi Nusantara terus melambung liar akibat manuver Garam Capital. Ia mulai kehilangan akal sehat.
"Ayah, izinkan saya mengambil pinjaman utang jangka pendek dalam bentuk Dolar dari sindikasi bank asing di Singapura," mohon Bambang kepada H. Sulaiman. "Suku bunga utang valas saat ini sangat rendah dibandingkan bunga rupiah. Ini satu-satunya cara mengalahkan modal Garam Capital!"
Hendrawan, sang adik, menggebrak meja menentang keras. "Gila! Rupiah sedang bergejolak di Thailand. Kalau krisis itu menular ke sini, utang dolar kita bisa membengkak dua kali lipat!"
Di sudut ruangan yang gelap, Arini duduk diam. Malam itu ia bertugas mencatat notulen rapat sebagai asisten legal magang Bank BAM. Ia menghentikan goresan pulpennya, lalu angkat bicara dengan nada suara yang dibuat selugu dan sesopan mungkin.
"Maaf menyela, Tuan Besar... tapi bukankah nilai rupiah kita selama puluhan tahun ini selalu dipatok sangat stabil oleh Bank Indonesia?" ucap Arini polos, menatap wajah-wajah cemas direksi. "Menurut analisis hukum investasi saya, mengambil utang dolar saat ini adalah langkah pembiayaan paling efisien. Bank asing memberi bunga murah. Ini peluang emas untuk menyudutkan Garam Capital."
Mendengar analisis dari "anak paviliun ajaib" yang terdengar logis dan pro-pertumbuhan itu, pertahanan H. Sulaiman runtuh. Sang patriark, yang dulu diselamatkan Arini dari krisis 87, mengira saran ini sama jitunya.
H. Sulaiman akhirnya memberikan restu fatalnya. "Ambil pinjaman itu, Bambang. Tarik utang valas sebesar 350 juta Dolar AS."
Arini menunduk, kembali menulis notulen rapat untuk menyembunyikan senyum iblis yang terkembang di wajahnya. Jebakannya berhasil sempurna.