Kembali ke Daftar Isi

Episode 3: Aliansi di Balik Bayangan

Chapter 5: Medan Perang Baru, Kehancuran Bumi Nusantara

Lokasi: Lantai Perdagangan Bursa Efek Jakarta (BEJ) & Istana Mahkota
Waktu: Pagi Hari, 1997

Di Istana Mahkota, konflik internal sedang mendidih. Faksi Bambang Mahkota (anak sulung) dan Hendrawan Mahkota (anak kedua) tengah bertarung sengit memperebutkan restu penuh dari H. Sulaiman. Target akuisisi mereka adalah PT Bumi Nusantara Tbk, sebuah raksasa korporasi logistik dan kapal kargo yang sedang sekarat karena terlilit utang struktural.

Bambang sangat berambisi mengambil alih perusahaan itu demi memonopoli jalur distribusi beras dan minyak goreng nasional, dari pabrik hingga ke pasar-pasar tradisional.

H. Sulaiman memberikan syarat tegas: "Siapa yang bisa memenangkan lelang aset Bumi Nusantara dengan dana paling efisien di bursa, dia yang akan memimpin bisnis komoditas utama Grup Mahkota."

Bambang yang sangat percaya diri telah menyiapkan dana segar sebesar Rp1 triliun. Namun, saat bidding war (perang penawaran) di lantai pasar bursa dimulai keesokan harinya, sebuah firma swasta tak dikenal tiba-tiba muncul.

Di layar hijau trading floor Bursa Efek Jakarta, nama Garam Capital terus muncul, bermanuver agresif menaikkan harga penawaran saham Bumi Nusantara. Setiap kali broker Bambang menaikkan harga, broker dari Garam Capital membalas dalam hitungan detik.

Bambang Mahkota, yang memantau dari ruang kerjanya, membanting telepon ke meja. Ia panik dan tersudut. "Siapa keparat dari Garam Capital ini?! Dari mana mereka punya ratusan miliar tunai?!" teriaknya frustrasi.

Di tempat lain, di sebuah ruangan kantor kecil tanpa papan nama, Bimo tersenyum miring sambil terus memberikan instruksi buy kepada pialangnya, mengeksekusi strategi yang telah dirancang presisi oleh Arini.