Episode 3: Aliansi di Balik Bayangan
Chapter 4: Rasa yang Tidak Terduga
Lokasi: Balkon Lantai Dua Kedai Kopi
Waktu: 18:00 WIB (Sore menjelang malam)
Setelah negosiasi panjang dan kesepakatan pendirian firma ditandatangani di atas serbet kopi, Arini dan Bimo pindah ke balkon luar. Langit Jakarta tampak kelabu, namun pendar lampu kota dan deretan kendaraan yang macet memberikan kesan hangat yang tak terduga.
Bimo menyalakan sebatang rokok, menyesapnya perlahan. Ia menatap profil wajah Arini yang diterpa cahaya jingga lampu jalanan. Tatapan Bimo kini lebih dalam dari sekadar menatap rekan bisnis; ada intrik, ketertarikan, dan misteri yang membuatnya penasaran.
"Aku masih ingin tahu mengapa kamu melakukan semua ini, Arini," tanya Bimo pelan, memecah kesunyian. "Kamu punya tanah miliaran, otak brilian, dan jalan masuk ke korporat terbesar di negara ini. Mengapa kamu memilih untuk membangun sesuatu yang sangat berisiko di tengah pusaran yang akan runtuh, alih-alih duduk tenang menyaksikan semuanya dari pinggir lapangan?"
Arini berhenti menatap lampu kota, menghela napas panjang. Beban dari kehidupan sebelumnya sebagai Sekar terasa menekan dadanya.
"Karena di pinggir lapangan, kau hanya akan menjadi korban dari orang-orang yang bermain di tengah, Bimo," jawab Arini dingin. "Dan di antara reruntuhan badai nanti... di situlah kita bisa membangun sesuatu yang benar-benar baru. Yang tak tersentuh."
Bimo tersenyum kecil, menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Dan jika suatu hari nanti, kita salah perhitungan dan kehilangan semuanya karena bisnis gila ini... apakah kamu akan menyesal?"
Arini menoleh padanya, tertawa pelan. Tawanya terdengar lelah, namun sangat manusiawi dan tulus—sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan sejak ia bereinkarnasi.
"Aku sudah menyesal sekali dalam hidupku," ucap Arini misterius. "Aku yakin, aku mungkin akan menyesal lagi. Tapi... aku akan melakukannya untukmu juga, Bimo. Kita akan jatuh dan bangkit bersama."
Di balik tatapan yang saling mengunci dan kalimat yang menggantung itu, mereka berdua sama-sama menyadari satu hal: mereka tengah membangun ikatan yang jauh lebih besar dan berbahaya dari sekadar sebuah firma investasi. Sebuah percikan asmara di ambang krisis moneter.