Episode 3: Aliansi di Balik Bayangan
Chapter 3: Pertemuan Partner Rahasia di Kedai Kopi
Lokasi: Kedai Kopi Independen, Kebayoran Baru
Waktu: 14:00 WIB, Beberapa Hari Kemudian
Alih-alih pergi ke Wall Street di New York yang terlalu jauh dan tidak realistis bagi mahasiswi sepertinya, Arini mencari partner eksekutor di dalam negeri. Ia mengatur pertemuan dengan Bimo—seorang bankir investasi jenius muda lulusan Wharton yang sedang frustrasi karena ide-ide progresifnya selalu ditolak oleh birokrat bank pelat merah tempatnya bekerja.
Mereka bertemu di sebuah kedai kopi tersembunyi yang sepi pengunjung di Jakarta Selatan. Bimo datang dengan setelan jas rapi, namun wajahnya tampak sinis saat melihat orang yang mengundangnya ternyata hanya seorang mahasiswi muda berjaket almamater.
"Saya membatalkan rapat penting untuk ini?" tanya Bimo sambil menyesap kopinya, nyaris bangkit berdiri.
Kesombongan Bimo luntur seketika saat Arini menyodorkan sebuah map cokelat melintasi meja. Di dalamnya terdapat data internal yang membongkar keretakan fatal pada sistem perbankan Indonesia. Data itu merinci bagaimana bank-bank besar—termasuk Bank Mahkota—dengan ceroboh menyalurkan kredit triliunan rupiah kepada kroni-kroni penguasa tanpa agunan yang jelas.
"Dari mana kau dapat angka-angka ini? Ini rahasia negara," desis Bimo, matanya membelalak meneliti deretan angka utang macet tersebut.
"Saya punya modal jutaan dolar dari konversi tanah properti, dan saya tahu ke mana arah kehancuran ekonomi ini," jawab Arini tanpa basa-basi, bersandar di kursinya. "Keluar dari bank tempatmu bekerja. Kita dirikan firma investasi swasta bersama. Kita sebut saja... Garam Capital—nama lokal yang membumi, esensial, tapi mencekik perlahan."
Bimo menatap gadis di depannya dengan rasa takjub campur ngeri. Gadis ini bukan mahasiswa hukum biasa; ia adalah algojo finansial. "Lalu posisi kita?"
"Kamu akan jadi wajah depan perusahaan kita, Bimo. Jas mahalmu dan ijazah Wharton-mu akan menghiasi sampul majalah bisnis," ucap Arini sambil tersenyum tipis. "Sementara saya... saya akan mengatur bidak caturnya dari balik bayangan dapur Mahkota."