Episode 3: Aliansi di Balik Bayangan
Chapter 2: Konversi Dolar dan Keraguan Sang Ibu
Lokasi: Rumah Baru Siti, Depok
Waktu: 19:30 WIB
Di sebuah rumah sederhana namun asri yang baru saja ia belikan untuk ibunya di kawasan Depok, Arini duduk di meja ruang tamu. Di hadapannya terhampar mesin ketik, telepon, dan setumpuk dokumen perbankan.
Melalui perusahaan cangkang (paper company) yang diam-diam ia dirikan di luar negeri dari hasil penjualan tanah Kelapa Gading, Arini sedang menginstruksikan manajer keuangan kepercayaannya via telepon luar negeri.
"Konversi seluruh aset tunai kita ke dalam Dolar Amerika Serikat. Semuanya. Jangan tinggalkan rupiah sepeser pun di rekening," perintah Arini dalam bahasa Inggris yang fasih, sebelum menutup telepon.
Ibunya, Siti, yang kini sudah tidak bekerja sebagai pelayan dan tampak lebih sehat meski kakinya masih pincang, sedang duduk menjahit di sudut ruangan. Siti merasa cemas melihat putrinya sibuk dengan angka-angka asing.
Di tahun 1996, nilai tukar Rupiah sedang berada di masa jayanya, kokoh dan stabil di angka Rp2.300 per dolar. Seluruh rakyat dan media massa sedang euforia, memuja fondasi ekonomi Indonesia sebagai "Macan Asia" yang tak akan pernah tumbang.
"Jangan serakah, Nduk," peringat ibunya lembut, meletakkan jahitannya. "Kata orang-orang di TV, main uang asing itu fluktuatif. Bahaya. Uang rupiah kita sekarang lagi kuat-kuatnya."
Arini beranjak dari kursinya, berjalan menghampiri Siti, lalu memeluk ibunya dengan erat dari belakang. Di dalam kepala Arini, ingatan sejarah dari kehidupan masa depannya bergema seperti lonceng kematian: Dua tahun lagi, badai inflasi akan menghancurkan segalanya. Nilai uang rupiah di dompet rakyat tidak akan lebih berharga dari kertas koran basah.
"Ini bukan keserakahan, Bu," bisik Arini, suaranya bergetar menahan kepedihan masa lalu saat ia melihat ibunya mati kelaparan. "Ini adalah benteng pertahanan kita. Arini berjanji... Arini tidak akan membiarkan Ibu lapar lagi seperti dulu."