Episode 3: Aliansi di Balik Bayangan
Chapter 1: Kawasan Kelapa Gading – Jakarta, 1996
Lokasi: Balkon Proyek Ruko Komersial, Kelapa Gading
Waktu: 16:00 WIB, Tahun 1996
Angin sore menerpa wajah H. Sulaiman yang kini mulai memudar ditelan usia. Meski kulitnya berkerut dan rambutnya kian memutih, aura kewibawaannya sebagai taipan raksasa belum luntur. Ia berdiri bersandar di pagar balkon beton sebuah proyek ruko mewah yang sedang dibangun di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Di sampingnya, berdiri Arini—yang kini berusia 19 tahun. Ia tampak sangat anggun sekaligus berwibawa mengenakan jas almamater Makara Kuning Universitas Indonesia. Pemandangan di bawah mereka sangat kontras dengan ingatan sembilan tahun lalu.
Lahan rawa kumuh yang menjadi sarang nyamuk dan sempat diremehkan oleh keluarga Mahkota itu, kini telah disulap oleh para pengembang menjadi kota mandiri dan pusat bisnis raksasa. Deretan ruko, mal, dan perumahan elite memanjang hingga ke ufuk. Harga tanah di kawasan ini tak lagi bisa dinalar oleh akal sehat.
H. Sulaiman menoleh, menatap Arini dengan mata memicing, seolah mencoba membedah isi kepala gadis yang dulu hanyalah anak pelayan di rumahnya.
"Lahan yang kau minta sebagai hadiah sembilan tahun lalu... nilainya sekarang sudah meroket ribuan persen," ucap H. Sulaiman, suaranya mengandung campuran antara kekaguman dan kewaspadaan. "Hanya dengan menjual sebagian kecilnya, kau sudah hidup jauh lebih mewah dari manajer-manajerkum. Kau punya otak yang menakutkan, Arini."
Arini membalas tatapan sang patriark, lalu mengulas senyum sopan. Sebuah senyum yang dirancang khusus untuk menyembunyikan sisi kelam seorang fixer yang bersiap menghabisi mangsanya.
"Saya tidak secerdas itu, Tuan Besar," jawab Arini merendah. "Saya hanya mencoba membaca ke mana arah angin bertiup. Dan tampaknya angin hari ini... sedang bertiup sangat kencang untuk kita."