Episode 2: Arsitek di Balik Dapur
Chapter 8: Lompat Waktu – Kampus UI Depok, 1996
Lokasi: Pelataran Parkir, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok
Waktu: Pagi, Tahun 1996
Sembilan tahun berlalu dengan cepat.
Tahun berganti menjadi 1996. Suasana kampus Universitas Indonesia di Depok tampak hijau, dipenuhi lalu-lalang mahasiswa berjaket kuning yang sibuk dengan urusan akademis mereka. Sebuah mobil sedan Volvo merah tua—mobil mewah Eropa yang jarang dimiliki mahasiswa biasa—berhenti di depan pelataran parkir fakultas hukum.
Pintu terbuka. Dari dalamnya, keluar seorang mahasiswi tingkat akhir yang berpenampilan sangat rapi, anggun, namun dingin. Ia membawa diktat Hukum Dagang tebal di lengannya, mengenakan kacamata hitam yang menutupi tatapan matanya yang sangat tajam.
Itu adalah Arini. Di usianya yang menginjak 19 tahun, wajahnya telah mekar sempurna, kini terlihat persis seratus persen seperti wajah Sekar (sosok aslinya) di usia muda. Arini telah tumbuh menjadi perempuan tangguh, menguasai ilmu hukum dan ekonomi dengan kecerdasan yang melampaui kurikulum dosennya.
Sambil bersandar elegan di kap mobil Volvo merahnya—hasil dari penjualan sebagian kecil tanah Kelapa Gading yang harganya telah meroket tajam—ia membuka lipatan koran Kompas terbitan pagi itu.
Halaman utamanya menampilkan tajuk berita finansial berskala besar: "Grup Mahkota Resmi Mendirikan Bank Asia Mahkota (Bank BAM) - Berambisi Menjadi Pilar Finansial Nasional". Di bawah berita itu, terpampang foto H. Sulaiman dan Bambang Mahkota yang sedang menggunting pita peresmian.
Arini membaca paragraf demi paragraf, lalu meremas perlahan ujung koran tersebut hingga kusut. Ia menatap deretan gedung tinggi Jakarta yang samar terlihat di batas cakrawala, lalu melepas kacamata hitamnya.
"Kalian merasa sudah berada di puncak dunia dengan bank baru ini," bisik Arini pada embusan angin pagi. Matanya memancarkan aura membunuh yang tenang. "Kalian tidak tahu... kurang dari dua tahun lagi, badai Krisis Moneter 1998 akan datang menghantam Indonesia dan menelan kalian bulat-bulat."
Ia tersenyum dingin, melangkah menjauhi mobilnya menuju ruang kelas. "Dan saya akan memastikan Bank Mahkota adalah bank pertama yang dilikuidasi, ditarik asetnya, dan mati mengenaskan."