Episode 2: Arsitek di Balik Dapur
Chapter 7: Perjanjian Beasiswa Terikat
Lokasi: Teras Belakang Istana Mahkota
Waktu: Siang Hari (Menyambung dari Scene Sebelumnya)
Setelah mendapatkan surat hibah tanah, Arini belum selesai. Ia kembali menatap H. Sulaiman.
"Sebagai syarat tambahan, saya meminta sesuatu yang bersifat formal," lanjut Arini, nadanya berubah menjadi seorang negosiator profesional, membuat Bambang mengerutkan kening karena merasa ganjil melihat sikap seorang anak sepuluh tahun.
"Apa lagi?" tanya Sulaiman, setengah terhibur.
"Izinkan saya bersekolah di tempat terbaik di Jakarta. Biayai penuh pendidikan saya hingga masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia," pinta Arini tenang. "Sebagai gantinya, saat saya lulus nanti, saya berjanji akan kembali dan menjadi Kepala Departemen Legal di Bank BAM milik Mahkota. Saya akan melindungi aset Anda dari pemerintah."
H. Sulaiman menyeringai tipis. Ia menatap Arini seolah menatap pion catur yang berharga.
"Sepakat," jawab Sulaiman tanpa berpikir panjang. "Tapi ingat, sekali kau masuk ke dalam lingkaran Mahkota, kau tidak akan pernah bisa keluar. Aku memiliki hidupmu."
Sulaiman berpikir ia baru saja mengikat "otak jenius" anak sopirnya agar tidak jatuh ke tangan kompetitor di masa depan. Itu hanyalah investasi murah baginya. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menyekolahkan algojonya sendiri, memberi Arini senjata hukum formal yang kelak akan menyayat urat nadi dinasti Mahkota dari dalam.