Episode 2: Arsitek di Balik Dapur
Chapter 6: Hadiah Tanah Rawa Kelapa Gading
Lokasi: Ruang Pribadi H. Sulaiman
Waktu: Desember 1987
H. Sulaiman memanggil Arini secara khusus ke ruang kerjanya. Anak perempuan itu masuk dengan tenang, berdiri di depan meja mahoni besar yang penuh dengan dokumen akuisisi aset pesaing yang baru saja mereka menangkan.
Pria tua itu menatapnya dengan lekat, meneliti setiap garis wajah Arini.
"Kamu yang menulis memo amplop merah itu, kan?" H. Sulaiman langsung ke intinya, suaranya berat, menuntut kejujuran.
"Ya, Tuan Besar," jawab Arini tanpa keraguan sedikit pun.
H. Sulaiman mengangguk pelan. "Keberanianmu menyelamatkan leher perusahaan saya. Sesuatu yang bahkan tidak terpikirkan oleh direktur lulusan luar negeri yang kubayar mahal. Sebagai imbalannya, katakan apa maumu. Kau mau uang? Puluhan juta? Atau kau ingin Tuan Besar mencabut tuntutan dan mengeluarkan ayahmu dari penjara?"
Arini menggeleng tegas. Di dalam kepalanya, otak fixer Sekar bekerja. Ia tahu, jika ayahnya keluar sekarang, H. Sulaiman akan merasa terancam dan terus memantau gerak-gerik keluarga mereka, membunuh setiap potensi Arini untuk bergerak bebas.
"Saya tidak meminta uang tunai, apalagi kebebasan ayah saya yang sudah terbukti bersalah," ucap Arini berbohong, menekan rasa perihnya. "Saya hanya meminta sebidang tanah rawa di daerah Jakarta Utara yang selalu banjir itu... lahan tak terpakai di daerah Kelapa Gading."
Bambang Mahkota, yang baru saja masuk ke ruangan, mendengar permintaan itu dan tertawa meremehkan.
"Hanya anak pembantu bodoh yang meminta tanah sarang nyamuk dan lumpur bau saat ditawari uang tunai oleh ayahku!" cibir Bambang angkuh.
Arini tidak bereaksi terhadap hinaan itu. Ia hanya tersenyum tipis dalam diam, menatap H. Sulaiman yang akhirnya menandatangani surat hibah tanah itu.
Arini tahu apa yang tidak mereka ketahui: Di awal tahun 90-an nanti, hamparan rawa kumuh seluas puluhan hektar itu akan disulap oleh konsorsium pengembang raksasa menjadi kota mandiri dan pusat bisnis paling elite di Jakarta Utara. Nilai tanah itu akan meroket ribuan persen dalam beberapa tahun, menjadikannya modal awal yang sangat besar untuk Arini mendirikan kerajaan finansialnya sendiri (Garam Capital) kelak.