Episode 2: Arsitek di Balik Dapur
Chapter 4: Bisikan Pakto 88 di Ruang Cerutu
Lokasi: Ruang Cerutu (Cigar Lounge), Istana Mahkota
Waktu: 15:00 WIB, Beberapa Bulan Kemudian (Akhir 1987)
Asap cerutu tebal mengambang di udara, berpadu dengan aroma wiski malt tunggal. H. Sulaiman Mahkota mengumpulkan anak-anak lelakinya—Bambang dan Hendrawan—beserta beberapa direktur senior untuk rapat darurat. Berita burung dari Cendana menyebutkan bahwa pemerintah Orde Baru sedang menggodok regulasi deregulasi perbankan besar-besaran (yang kelak dikenal sebagai Pakto 88).
"Risiko ekspansi terlalu besar, Ayah," ucap Bambang Mahkota, bersandar di kursi kulitnya. "Lebih baik Grup Mahkota bersikap konservatif. Kita harus tetap fokus pada perluasan lahan sawit dan perkayuan. Itu sumber uang riil kita."
Hendrawan mengangguk setuju. "Mendirikan bank terlalu banyak regulasi, lagipula kita bukan banker."
Arini, yang saat itu kebetulan ditugaskan membersihkan asbak di meja kayu bundar mereka, menghentikan gerakannya. Ia tahu bahwa deregulasi ini adalah kunci oligarki di masa depan. Ia menimbang-nimbang risikonya, lalu memberanikan diri untuk bersuara, memecah keheningan dewan direksi.
"Jika Mahkota hanya mengandalkan tanah dan kayu, di saat angin politik bergeser, izin konsesi HPH bisa dicabut pemerintah hanya dalam semalam," ucap Arini dengan nada datar yang teramat tenang untuk seorang anak kecil.
Semua orang di ruangan itu terdiam. Bambang melotot, siap membentaknya keluar. Namun H. Sulaiman mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan Bambang untuk diam. Ia menatap Arini dengan rasa ingin tahu yang dingin.
"Lanjutkan, anak sopir," perintah H. Sulaiman.
"Mengapa tidak mendirikan bank sendiri, Tuan Besar?" jawab Arini, menatap langsung ke mata Sulaiman tanpa gentar. "Draf aturan baru itu akan mengizinkan siapa saja mendirikan bank hanya dengan modal awal sepuluh miliar rupiah. Sangat murah. Gunakan bank itu untuk menghimpun dana masyarakat luas... lalu salurkan dana tersebut kembali sebagai kredit tanpa batas kepada perkebunan sawit Mahkota sendiri."
H. Sulaiman tertegun. Cerutu Cohiba di tangannya berhenti di udara, nyaris jatuh membakar celana kainnya.
Pemikiran dari bibir anak perempuan berusia 10 tahun ini adalah cetak biru sempurna dari sistem Connected Lending—Batas Maksimum Pemberian Kredit yang dilanggar—yang di masa depan akan menjadi modus terbesar para konglomerat dalam mengeruk uang negara.
"Dari mana kau belajar kata 'kredit tanpa batas'?" tanya H. Sulaiman, suaranya merendah, menutupi keterkejutannya.
"Saya sering membaca koran bisnis bekas yang dibuang Tuan Muda Haikal," jawab Arini berbohong dengan lancar.
Di detik itu, H. Sulaiman menyadari bahwa anak pelayan di paviliun belakangnya ini bukan sekadar pintar. Ia memiliki isi kepala yang sangat berbahaya, insting predator finansial yang lebih tajam dari gabungan kedua anak kandungnya.