Kembali ke Daftar Isi

Episode 2: Arsitek di Balik Dapur

Chapter 3: Reuni dengan Masa Lalu

Lokasi: Rumah Bedeng Pinggir Rel, Pinggiran Jakarta
Waktu: 21:00 WIB, Malam Gerimis

Pesta megah di Istana Mahkota telah usai, menyisakan tumpukan piring kotor dan gelas anggur kosong. Malam harinya, Arini menyelinap keluar dari pagar tinggi Istana Mahkota melalui pintu pelayan. Ia berjalan kaki menyusuri jalanan Jakarta yang basah, menembus gang-gang sempit dan daerah kumuh, menuju sebuah rumah bedeng berdinding seng di pinggir rel kereta api.

Itu adalah rumah asli keluarganya sebelum ayahnya (sopir Sulaiman) dipenjara. Ia mencari tempat itu berdasarkan ingatan masa kecil tubuh aslinya.

Dari celah jendela kayu yang renggang, Arini mengintip ke dalam. Di ruangan sempit berlantai tanah yang diterangi lampu petromaks temaram, ibunya, Siti, sedang duduk melantai, menjahit setumpuk pakaian bekas dengan mata yang lelah. Tangan kasarnya bergerak ritmis, menahan sakit di pinggangnya.

Mengingat sejarah kelam dari kehidupan sebelumnya—di mana Siti akan meninggal dunia karena busung lapar akibat inflasi hebat dan krisis ekonomi tahun 1998 karena tak ada yang mempedulikan nasib pelayan rendahan—Arini tak sanggup menahan emosinya.

Air mata yang sudah lama kering di kehidupan Sekar sebagai fixer, kini tumpah. Ia menangis tertahan di balik pohon pisang, tubuh kecilnya bergetar di bawah rintik gerimis malam itu. Duka Arini yang ditinggal ibunya mati kelaparan bercampur aduk dengan rasa bersalah Sekar di kehidupan masa depannya.

Ia mengusap air matanya dengan lengan piyamanya yang basah. Tatapannya menajam, mengeras seperti berlian.

Saya tidak akan membiarkan ibu mati kelaparan lagi di krisis 98, janjinya pada bayangan malam. Saya akan menyiapkan perahu sekoci untuk kita, dan untuk melakukannya, saya harus menguras harta karun H. Sulaiman sejak saat ini.