Episode 2: Arsitek di Balik Dapur
Chapter 2: Intrik Dokumen Kuota Impor
Lokasi: Koridor Lorong Ruang Kerja Pribadi H. Sulaiman
Waktu: 11:30 WIB
Kepala pelayan dapur memerintahkan Arini untuk mengantar secangkir kopi hitam ke ruang kerja pribadi H. Sulaiman. Ruangan itu terletak di sayap barat rumah yang sunyi, dijaga ketat, dan biasanya tak boleh dimasuki pelayan rendahan.
Saat Arini melintasi koridor berlapis karpet merah itu, pintu mahoni ruang kerja Tuan Besar tampak sedikit terbuka. Arini memperlambat langkahnya. Dari celah pintu, ia melihat sosok Haikal Mahkota—saat itu masih remaja berseragam sekolah elite—sedang menggeledah laci meja kerja kakeknya dengan panik.
Haikal membalikkan tumpukan map, menjatuhkan pena mahal. Ia mencari sesuatu. Berkat ingatan masa depannya, Arini (Sekar) tahu persis apa yang dicari anak itu: dokumen bertajuk "Lisensi Monopoli Impor Gandum & Terigu". Dokumen itu baru saja disahkan oleh kementerian melalui lobi H. Sulaiman, dan Bambang Mahkota mengutus anaknya untuk mencuri (menyalin) dokumen itu agar faksi sulung bisa bermanuver lebih dulu di bisnis hulu sebelum diketahui oleh faksi Hendrawan atau Herlina.
Merasa ini adalah kesempatan pertamanya untuk mulai menguji ketajaman instingnya, Arini sengaja mendorong pintu agar terbuka lebar.
Engsel pintu berderit halus. Haikal terlonjak kaget. Sikutnya refleks menyenggol tumpukan berkas penting dari meja. Tumpukan kertas itu berjatuhan tepat ke mulut mesin penghancur kertas elektrik (shredder) yang kebetulan menyala di bawah meja.
Suara mesin yang berderak ribut mencabik-cabik kertas memecah kesunyian rumah.
Haikal memucat. Di saat yang bersamaan, suara derap langkah berat terdengar dari ujung lorong. Bambang Mahkota dan H. Sulaiman—yang baru saja meninggalkan pesta sejenak—bergegas masuk ke dalam ruangan.
H. Sulaiman menatap sisa-sisa dokumen berharga yang kini menjadi serpihan kertas di keranjang sampah. Wajahnya menggelap, memancarkan aura membunuh sang Singa Tua.
Terdesak dan ketakutan, Haikal langsung menunjuk wajah Arini yang berdiri tenang membawa nampan kopi di ambang pintu.
"Anak sopir ini yang melakukannya, Kek!" fitnah Haikal tanpa ragu, menutupi paniknya dengan bentakan keras. "Dia menyelinap masuk mau mencuri, lalu menjatuhkan berkas Ayah!"
Bambang Mahkota langsung mengambil langkah maju, siap menampar Arini. Namun, Arini tidak ciut, tidak menangis, dan tidak memohon ampun seperti layaknya anak pembantu biasa.
Ia memegang nampan kopinya dengan stabil. Menggunakan ketenangannya sebagai mantan fixer korporat, ia membalas tatapan H. Sulaiman dan berbicara dengan artikulasi yang sangat tertata.
"Tuan Besar," ucap Arini dengan nada sedatar es. "Anak paviliun dari dapur seperti saya tidak memiliki alasan, apalagi akses, untuk menyentuh laci pribadi Anda. Tapi, jika Anda memeriksa saku celana seragam Tuan Muda Haikal saat ini juga, anak kunci laci rahasia Anda ada di sana."
Haikal memucat pasi.
"Lalu," lanjut Arini, matanya menatap tajam ke arah jari-jari Haikal yang gemetar, "di ujung telunjuk kanan Tuan Muda, masih ada noda sisa tinta biru basah dari stempel basah kementerian yang baru saja Anda cap tadi pagi."
Ruangan itu hening seketika. H. Sulaiman menyipitkan mata, mengalihkan pandangannya dari Arini ke cucu sulungnya. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah mendekati Haikal, merogoh saku celana anak itu dengan kasar, dan menarik keluar anak kunci laci emas miliknya. Ia lalu melihat noda tinta biru di jari Haikal.
H. Sulaiman berbalik. Ia menatap Bambang Mahkota dengan pandangan yang membekukan darah. Sebuah tatapan yang secara diam-diam mengatakan: Kau mengajari anakmu mencuri dariku di rumahku sendiri.
Di ambang pintu, Arini tersenyum sangat tipis. Langkah pertama keruntuhan moral keluarga ini baru saja dimulai.