Episode 2: Arsitek di Balik Dapur
Chapter 1: Paviliun Belakang dan Dapur Utama – Jakarta, 1987
Lokasi: Dapur Istana Mahkota
Waktu: 10:00 WIB, Hari Ulang Tahun ke-60 H. Sulaiman
Arini—yang kini diisi oleh jiwa Sekar—tidak kembali ke masa lalu untuk datang menaiki mobil mewah atau duduk di kursi dewan direksi. Sebaliknya, realitas menghantamnya keras: ia sedang memeras keringat di lantai dapur kotor dan pengap milik Istana Mahkota.
Di luar dinding dapur, terdengar alunan musik klasik. Puluhan mobil mewah milik pejabat, jenderal militer, dan menteri terparkir rapi di halaman depan. Mereka semua datang untuk memberikan penghormatan pada perayaan ulang tahun H. Sulaiman Mahkota yang ke-60.
Namun di dalam dapur, suasana tak ubahnya medan perang. Hawa panas dari belasan kompor komersial membuat peluh bercucuran. Istri-istri para petinggi rumah H. Sulaiman—Nyonya Bambang Mahkota dan Nyonya Hendrawan Mahkota—mondar-mandir dengan kebaya sutra mahal mereka, meneriaki para pembantu bagai mandor budak.
Siti, ibu angkat Arini (namun Arini sekarang tahu status aslinya), tertatih-tatih berjalan sambil membawa nampan besar berisi mangkuk-mangkuk sup. Kakinya yang pincang membuatnya kesulitan menjaga keseimbangan. Saat melewati Nyonya Bambang yang sedang berdiri berkacak pinggang, ujung nampan Siti tak sengaja menyenggol lengan Nyonya Bambang, menumpahkan sedikit kuah sup panas ke lantai marmer dapur.
"Heh, perempuan pincang! Kau buta?!" pekik Nyonya Bambang melengking, menarik gaunnya dengan jijik, meski tidak ada kuah yang mengenainya. "Tahu berapa harga sepatu saya ini? Gajimu sepuluh tahun tidak akan cukup untuk membelinya! Pelayan tidak berguna!"
Siti segera berlutut, memohon ampun dengan suara bergetar sambil berusaha mengelap lantai dengan serbetnya. Nyonya Bambang hanya mendengus merendahkan dan memalingkan muka.
Di sudut ruangan, Arini (Sekar) sedang memegang kain pel. Matanya yang tajam menatap pemandangan itu. Tangannya mencengkeram gagang pel kayu itu begitu kuat hingga urat-urat kecilnya menonjol. Sebuah amarah dingin mendidih di rongga dadanya.
Arini perlahan mendekat dan mengambil alih serbet dari tangan Siti. Ia menatap Nyonya Bambang dengan pandangan yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak perempuan berusia sepuluh tahun. Sebuah tatapan predator.
Sambil menunduk membersihkan lantai marmer itu, Arini menganalisis dinamika di hadapannya. Mereka memperlakukan Siti bagai keset kaki yang tak berharga. Faksi sulung ini sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam kepala anak kecil yang sedang berlutut dan mengepel lantai di depan mereka, tersimpan memori krisis finansial masa depan dan seluruh rahasia busuk dinasti Mahkota.
Tertawalah sekarang, Nyonya Bambang, batin Arini. Karena suatu hari nanti, saya akan merampas semua aset yang Anda banggakan itu hingga tak tersisa sepeser pun.