Episode 1: Dosa di Balik Sembako
Chapter 7: Gerbang Istana dan Sang Monster
Lokasi: Taman Utama Kediaman Keluarga Mahkota
Waktu: Siang Hari, 1987
Arini—yang kini mewadahi jiwa dan dendam Sekar dari masa depan—melangkah keluar dari area paviliun belakang. Di luar pagar beton setinggi tiga meter yang mengelilingi rumah ini, jalanan Sudirman masih tampak lengang, dihiasi mobil-mobil retro era 80-an, membawa aroma tanah basah Jakarta tempo dulu.
Namun di dalam area pesta, kemewahan yang gila-gilaan terpampang nyata. Tenda-tenda sutra putih membentang, meja-meja bundar dipenuhi hidangan impor, dan para pramusaji berseragam rapi melayani para tamu. Pemandangan ini sangat kontras dengan lantai semen lembab dan bau minyak tanah di paviliun belakang tempatnya baru saja terbangun.
Di ujung karpet merah, menjadi pusat semesta dari pesta itu, berdirilah H. Sulaiman Mahkota versi tahun 1987. Sang patriark tampak masih muda, berwibawa, dan sangat bertenaga, dibalut kemeja batik sutra mahal yang memancarkan kekuasaan. Ia tersenyum ramah, menyalami para pejabat militer dan tokoh agama yang bergantian memujinya setinggi langit sebagai "Pengusaha Filantropis Pembela Kaum Duafa".
Arini kecil berdiri kaku di tepi barisan pelayan bayangan, tangannya yang kurus memegang nampan logam berisi gelas-gelas kristal kosong. Matanya menatap tajam, menembus kerumunan, mengunci pandangannya tepat ke wajah H. Sulaiman yang tengah tertawa.
Tidak ada kepolosan anak-anak dalam tatapan itu. Di balik mata gadis kecil berusia sepuluh tahun itu, terbakar amarah seorang eksekutif kejam yang telah dikhianati dan dibunuh oleh keluarga yang sama di masa depan.
Sekar—kini sepenuhnya menerima identitas barunya sebagai Arini—meremas ujung nampan besinya hingga buku-buku jarinya memutih, dan mengucap sumpah dalam hatinya:
"Anda mengurung ayah saya di penjara dan memelihara kami di paviliun belakang seperti anjing tanah agar dosa masa lalu Anda terkubur. Anda membangun kekaisaran ini dari penderitaan dan perut lapar rakyat, menumpuk triliunan rupiah yang pada akhirnya akan membunuh saya di masa depan."
Arini menarik napas pelan, menenangkan ritme jantungnya agar tidak menarik perhatian kepala pelayan.
"Tapi sejarah akan berubah hari ini. Mulai hari ini, dari barisan dapur pelayan ini, saya akan meruntuhkan seluruh dinasti Mahkota Anda dari akarnya. Saya akan mengambil semuanya."