Kembali ke Daftar Isi

Episode 1: Dosa di Balik Sembako

Chapter 6: Kebangkitan di Paviliun Belakang – 1987

Lokasi: Kamar Tidur Sempit, Paviliun Belakang Istana Mahkota
Waktu: Pagi Hari, 1987

Gelap. Dingin. Lalu... udara mendadak membanjiri paru-parunya.

Sekar terbangun dengan napas tersedak yang keras, memuntahkan air dari mulutnya ke atas kasur tipis. Ia meronta, mencengkeram seprai bermotif bunga kusam. Anehnya, air yang ia muntahkan tidak terasa asin dan berbau oli seperti air laut pelabuhan, melainkan tawar seperti air keran biasa.

Ia membuka mata dan mengamati sekeliling. Jantungnya berpacu liar. Ia tidak berada di dasar laut. Ia berada di sebuah ruangan sempit yang pengap, berdinding tripleks kusam, berbau minyak tanah, dengan kipas angin besi tua yang berderit kencang di langit-langit.

Sekar menatap tangannya yang menumpu pada kasur. Tangan itu... salah. Terlalu kecil. Terlalu kurus. Tangannya di tahun 2026 mulus dan terawat oleh losion mahal, tapi tangan yang ini dipenuhi bekas goresan kasar dan luka bakar ringan.

Dilanda kepanikan yang luar biasa, Sekar melompat turun dari kasur—menyadari tubuhnya jauh lebih pendek dan ringan—lalu berlari menuju lemari plastik kusam di sudut ruangan. Ia menatap pantulannya di cermin buram yang retak di bagian ujungnya.

Wajah yang balas menatapnya bukanlah wajah fixer berusia 49 tahun. Itu adalah wajah seorang anak perempuan berusia 10 tahun, mengenakan piyama lusuh kebesaran.

Arini. Nama itu mendadak muncul di kepalanya seperti sengatan listrik.

Pintu kamar diketuk dengan kasar. Ibunya, Siti—seorang perempuan paruh baya berwajah lelah yang mengenakan daster pudar—membuka pintu sambil membawa seragam pelayan hitam-putih khusus anak-anak.

"Arini, cepat pakai bajumu. Hari ini ulang tahun Tuan Besar Sulaiman yang ke-60," tegur Siti tegas, wajahnya menyiratkan kecemasan kronis kaum bawahan. "Semua orang di paviliun belakang harus bantu di dapur utama. Jangan bikin ulah, jangan bikin malu bapakmu yang sedang di penjara!"

Mendengar kata "penjara", Sekar tertegun. Kepalanya mendadak berdenyut hebat. Kepingan memori milik tubuh anak bernama Arini ini mengalir masuk dengan paksa, menyusun sebuah kenyataan yang menyayat hati:

Ayah angkat Arini adalah sopir pribadi sekaligus orang kepercayaan H. Sulaiman Mahkota. Sang ayah dikorbankan ke Lapas Cipinang bertahun-tahun lalu atas kasus penyelundupan komoditas, semata-mata sebagai "kambing hitam" untuk melindungi nama mulia H. Sulaiman. Sebagai imbalan atas bungkamnya sang sopir, Siti dan Arini diizinkan tinggal di paviliun belakang Istana Mahkota—bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai pembantu domestik yang terus-menerus diingatkan akan hutang budi mereka.

Namun, di balik ingatan anak itu, Sekar (yang kini memegang kendali kesadaran Arini) mengetahui rahasia yang jauh lebih gelap yang akan terungkap nanti: Arini bukanlah anak biologis sang sopir, melainkan anak kandung H. Sulaiman sendiri yang dibuang.