Kembali ke Daftar Isi

Episode 1: Dosa di Balik Sembako

Chapter 5: Pengkhianatan di Dermaga

Lokasi: Area Kargo, Pelabuhan Peti Kemas Internasional Tanjung Priok
Waktu: 00:30 WIB, 2026 (Melanjutkan Scene 01)

Malam beranjak larut di dermaga pelabuhan. Hujan gerimis telah berubah menjadi rintik yang membekukan tulang. Setelah memastikan manifes palsu telah ditandatangani oleh petugas syahbandar, Sekar membuang puntung rokoknya dan berjalan kembali menuju mobil SUV hitamnya yang terparkir di dekat tumpukan kontainer.

Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti. Insting lapangannya berteriak. Suasana terlalu sepi; para buruh pelabuhan yang biasanya masih lalu-lalang kini lenyap tak berbekas.

Dari balik bayangan tumpukan kontainer, muncul empat pria berbadan tegap. Mereka mengenakan jas hujan plastik gelap, menenteng parang dan satu laras pendek. Preman bayaran.

Sekar perlahan menurunkan tangannya mendekati pinggang, bersiap meraih apa pun yang bisa dijadikan senjata. Namun sebelum ia bisa bergerak, sebuah suara yang sangat familier menghentikannya dari arah belakang.

"Jangan melawan, Mbak. Mereka akan menembak lututmu duluan."

Sekar memutar tubuhnya perlahan. Dari balik kegelapan, Dika melangkah maju. Wajah pemuda itu tegang, basah oleh hujan, dan tangannya mencengkeram erat sepucuk pistol rakitan kaliber 9mm yang diarahkannya lurus ke dada Sekar.

Sekar menatap laras pistol itu, lalu menatap mata asisten yang telah ia anggap seperti adiknya sendiri.

"Siapa yang menyuruhmu, Dika?" tanya Sekar, nadanya tidak menyiratkan ketakutan, melainkan kekecewaan absolut.

Dika menelan ludah dengan susah payah, tangannya sedikit gemetar. "Keluarga Mahkota... Pak Haikal tidak bisa mengambil risiko membiarkan seorang fixer terus hidup dengan kepala penuh rahasia 9 triliun itu. Terutama dengan Jaksa Mita yang semakin menyempitkan ruang gerak."

"Dan kau menyetujuinya?"

Air mata bercampur air hujan mengalir di pipi Dika. Ia membalas dengan mengutip kalimat yang sering diajarkan Sekar kepadanya setiap kali mereka menghancurkan hidup orang lain: "Saya hanya mengikuti perintah dan tidak mempertanyakan moralitas, Mbak. Maafkan saya."

Tembakan meletus, memecah kesunyian malam dermaga. Kilatan cahaya dari moncong senapan menerangi wajah pucat Dika sejenak.

Dada Sekar serasa dihantam palu godam. Rasa panas membakar paru-parunya. Tubuhnya terdorong ke belakang oleh daya dorong peluru, terjerembab dari bibir beton dermaga, jatuh melayang ke arah air laut pelabuhan yang hitam, kotor, dan bercampur oli.

Dalam sepersekian detik sebelum tubuhnya menghantam air yang membekukan, Sekar menatap kontainer-kontainer Mahkota yang menjulang kokoh di atas sana, dan wajah Dika yang perlahan memudar di kegelapan. Ia akhirnya menyadari satu kenyataan pahit: kesetiaan butanya pada kartel ini adalah rancangan hukuman mati yang ia gali dengan tangannya sendiri.

Lalu, air hitam itu menelannya, menarik kesadarannya menuju kegelapan tanpa dasar.