Episode 1: Dosa di Balik Sembako
Chapter 3: Krisis Penimbunan Pangan
Lokasi: Ruang Kerja Haikal Mahkota, Menara Mahkota
Waktu: 14:00 WIB
Haikal Mahkota, pewaris utama sekaligus calon suksesor perusahaan, mondar-mandir seperti harimau yang terkurung. Ruangan kerjanya yang bernuansa kayu eboni dan emas berantakan luar biasa. Maket pabrik pengolahan sawit senilai ratusan juta rupiah hancur berserakan di lantai, menjadi korban amukannya.
Layar televisi raksasa di dinding menyiarkan berita kilat: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Kejaksaan Agung mulai menyelidiki kartel minyak goreng. Tiga gudang distributor digerebek pagi ini.
"Bagaimana mereka bisa tahu titik gudang kita di Marunda?!" teriak Haikal kepada dua direktur operasional yang berdiri kaku di sudut ruangan. Urat lehernya menonjol, wajahnya memerah karena alkohol dan kepanikan. "Kalian semua tidak becus! Aku membayar kalian milyaran untuk memastikan anjing-anjing pemerintah itu tetap tidur!"
Kedua direktur itu hanya menunduk, tak berani menatap mata Haikal. Reputasi Haikal yang sombong dan temperamental membuat siapa pun lebih memilih diam daripada dibalas dengan pemecatan—atau hal yang lebih buruk.
"Data harian pasokan bocor, Pak," salah satu direktur akhirnya bersuara lirih. "Ada orang dalam."
Haikal menendang pecahan maket dengan keras hingga menghantam dinding kaca. "Cari tahu siapa bajingannya! Sekarang!"