Kembali ke Daftar Isi

Episode 1: Dosa di Balik Sembako

Chapter 2: Kantor Pusat Grup Mahkota – Satu Minggu Sebelumnya

Lokasi: Ruang Kerja Sekar, Lantai 40 Gedung Grup Mahkota
Waktu: 13:15 WIB

Sekar duduk di kursi kulitnya yang elegan di lantai 40, ruangan kedap suara yang menghalanginya mendengar teriakan dari jalanan di bawah sana. Ia menatap layar monitor yang menampilkan grafik lonjakan profit perusahaan yang terus menghijau, berbanding terbalik dengan krisis di luar sana.

Di pintu kaca ruangannya, terpampang pelat perak bertuliskan: Sekar - General Manager of Corporate Fixer. Sebuah jabatan yang tidak pernah ada di buku teks manajemen mana pun.

Tugas utamanya hanya satu: membersihkan segala borok dan dosa keluarga Mahkota. Di laci mejanya tersimpan bukti-bukti kotor yang ia gunakan sebagai peluru: dari menyuap pejabat kementerian demi meloloskan kuota impor bodong, membungkam aktivis lingkungan yang memprotes pembukaan lahan sawit ilegal dengan ancaman pembunuhan karakter, hingga mengatur dana taktis (slush fund) yang dihasilkan dari penimbunan pangan rakyat.

Dika, asisten mudanya yang setia, masuk membawa setumpuk dokumen. "Mbak, perwakilan dari kementerian sudah setuju dengan angka suap untuk kuota impor bulan depan. Tapi aktivis di Riau masih menolak tawaran damai kita."

Sekar tidak mengalihkan pandangannya dari layar. "Tawarkan dua kali lipat. Jika masih menolak, hancurkan reputasi mereka. Temukan kelemahan keluarganya, hutang, atau skandal apa pun. Kirim preman kalau perlu, buat seolah itu perampokan biasa."

Dika mengangguk kaku, mencatat instruksi itu tanpa bantahan. Loyalitas Sekar pada dinasti Mahkota nyaris tanpa batas, dan ia mendidik Dika dengan tiga aturan emas yang selalu ia patuhi:
1. Tidak pernah menolak perintah keluarga Mahkota.
2. Tidak pernah mempertanyakan moralitas dari perintah tersebut.
3. Tidak pernah menyimpan salinan bukti untuk diri sendiri.

"Siapkan dokumen mitigasi untuk Pak Haikal," sambung Sekar dingin, "Bapepam mulai mencium sesuatu di laporan kuartalan kita."